Kamis, 19 Februari 2009

Resep "Greng" Dengan Kopi

ungkin masih banyak yang beranggapan bahwa kopi mempunyai efek negatif. namun pernyataan tersebu8t dibantah dengan berbagai penelitian yang secara ilmiah. Bahkan dengan meminum kopi dengan takaran yang ditentukan dapat memberikan manfaat yang baik bagi tubuh.

Dalam penelitian, didalam kopi terdapat zat afrosidiak yang dapat meningkatkan gairah seksual. Disamping itu kopi juga dapat menimbulkan pengurangan sakit kepala.

Disamping itu...Tahukah anda bahwa meminum kopi secara rutin diyakini daari beberapa bukti empiris dapat meningkatkan libido lelaki terhadap pasangannya dan juga membawa efek keperkasaan.

jadi tidak musatahil jika kopi"Eyang Sahid" yang diracik oleh kakek buyut kami mempunyai khasiat yang baik. Apalagi didalam campurannya terdapat beberapa rempah yang juga mengandung afrosidiak tinggi. Diantaranya tanaman tersebut....(rahasia perusahaan...he..he..ma'af)

http://www.kopi-vit.com/

Sejarah Kopi

ejarah kopi dapat ditelusuri jejaknya dari sekitar abad ke-9, di dataran tinggi Ethiopia. Dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad limabelas menjangkau lebih luas ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika utara.

Pada awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511, karena efek rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam konservatif dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena popularitas minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan atas perintah Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, larangan yang serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan gudang kopi ditutup.

Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun 1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.

Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat.